Tidak Pernah Sama

Salah satu jenis sihir adalah sihir narasi; menjadikan yang haq terlihat bathil dan menjadikan yang bathil terlihat haq. Karena kebathilan yang disampaikan terus menerus bisa terlihat benar dalam pandangan banyak orang, jika tidak disertai dengan ilmu. Padahal yang buruk dan yang baik tidaklah pernah sama, baik secara proses maupun hasilnya.

قُلْ لَّا يَسْتَوِى الْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ اَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيْثِۚ “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu” (Qs.Al-Mai’dah:100)

Dalam islam, untuk mencapai sesuatu tidak berarti kita dapat menghalalkan segala cara. Mungkin seringkali cara yang salah lebih mudah dan menarik untuk dijalani; “banyaknya keburukan itu menarik hatimu”. Tapi untuk apa kita capai tujuan-tujuan kita sekarang dengan cara yang salah, jika nanti akhirnya tidak akan Allah apresiasi?

Ayat ini mengajak kita untuk menjaga diri dari apa-apa yang telah diharamkan. Disini kita diajak menjaga diri lewat 3 aspek:

1.       Menjaga niat

Pentingnya mengevaluasi diri dalam kehidupan kita sehari-hari adalah untuk menjaga niat. Sebab setiap perbuatan kita akan dinilai dari niat, jika niat kita saja sudah salah, maka keseluruhan nilai dari perbuatan kita akan ikut salah.

2.       Menuntut dan mengamalkan ilmu

Allah menginginkan setiap hambaNya menyembah menggunakan ilmu, bukan dengan kesombongan. Karena beribadah tanpa ilmu, jatuhnya adalah ikut-ikutan.

3.       Komitmen kita terhadap harta yang halal

Setiap dari apa yang kita konsumsi akan berpengaruh terhadap kehidupan kita. Jika kita sudah mengonsumsi harta dan makanan yang haram, resikonya akan menjadi efek domino dalam kehidupan kita; susahnya dalam menuntut ilmu, doanya yang tertahan, dan masih banyak lagi. Makanya memastikan dari mana harta kita berasal, juga bagian penting yang harus kita perhatikan dalam kehidupan kita.

Sekarang kita sudah tahu bahwa antara yang baik dan yang buruk akan mengantarkan kita kepada hasil yang berbeda. Lalu dari mana kita bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk kalau begitu? Tentu salah satu jawabannya adalah dengan ilmu.

Inilah kenapa selain menjaga apa yang kita konsumsi secara makanan, menjaga konsumsi informasi juga tak kalah penting. Baik-buruk itu rancu jika kita serahkan maknanya kepada semua orang; sebab setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing.

Tapi kita sebagai muslim tak perlu lagi pusing, sebab Allah sudah tentukan langsung standar baik dan buruk yang harus kita ikuti. Tak hanya sampai disitu, bahakan kita juga diberikan contoh nyata yang mengamalkannya secara utuh dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ayat ini memberikan kita reminder seberapa pentingnya menilai dulu sesuatu itu apakah benar atau salah sebelum bertindak, sebab keduanya akan mengantarkan kita kepada akhir yang jauh berbeda; tidaklah keburukan akan berujung kepada urusan hisab kita yang berat.

Maka meskipun seringkali kebathilan itu lebih menarik, berhati-hatilah, sebab yang menarik tersebut bisa jadi besok akan menjerumuskan kita ke api neraka.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

 

    

 

 

 

   

  

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer