Ilmu Komunikasi

 

Pertama aku bakal berbagi soal “berkata baik”. Poin pertama yang aku pelajari dari kajian tematik yang lagi aku ikutin. Btw kajian yang lagi aku ikutin ini kajiannya Ustad Oemar Mita di websitenya Syameela (https://linktr.ee/syameela) jadi kalo kalian mau tau lengkapnya, bisa ikutin langsung dari sana~

“Ucapan adalah refleksi dari hati” maka baik-buruknya ucapan kita adalah cerminan dari baik-buruknya hati kita. Sedangkan hati adalah pusat dari segala aktivitas, karena segala akvitas tergantung pada niatnya, dan niat hanya datang daripada hati. Maka ga berlebihan saat dikatakan kualitas hidup kita berbanding lurus dengan ucapan kita.

Kualitas Hidup = Ucapan

Dan ucapan disini ga hanya ucapan secara offline aja, tapi juga online. Alias setiap apapun yang kita ketik dengan jari kita, itu juga termasuk ucapan. Kalo kata Allah,

 وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًۭا  “Dan berkatalah yang baik kepada manusia” (Al Baqarah:83)

Kalian pasti pernah denger tentang air yang molekulnya berubah bentuk saat diperdengarkan perkataan baik dan saat diperdengarkan perkataan buruk, bentuknya berubah sesuai apa yang ia dengar. Dari sini kita bisa menyimpulkan 2 hal.

Pertama, sekedar air saja sudah terbukti dapat bereaksi dengan ucapan kita, apalagi seluruh alam disekitar kita sekarang ini. Maka menjaga ucapan baik sama dengan menjaga lingkungan sekitar kita agar tetap positif.

Dan kedua, sesimpel air yang notabenya bukan sesuatu yang bisa diajak komunikasi aja bisa paham apakah perkataan kita ini termasuk baik atau buruk, apalagi manusia yang sejatinya punya hati yang begitu sensitif, bukan? Jadi daripada kita nambah-nambahin penuntut saat dipengadilan akhirat nanti, mending jaga-jaga diri deh dari sekarang, jadiin sekitar kita sebagai saksi kebaikan dan bukannya penuntut kesalahan kita -yang disengaja maupun tidak disengaja.

Nah jadi kalo gitu komunikasi yang baik itu komunikasi yang gimana dong?

Kalo ini aku dapetin dari buku yang judulnya “Membasuh Luka Pengasuhan” disini sempat dipaparkan hasil penelitian dari Albert Mehrabian (Guru Besar Emeritus Psikologi UCLA) kalau komunikasi itu..

-          7% makna pesannya berasal dari kata-kata yang terucap,

-          38% berasal dari intonasi suara, dan

-          55% dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

Jadi mau semanis apapun kata-kata yang kita ucapkan, kalau ekspresi wajah dan intonasi suara kita tidak baik, maka pesan yang sampai juga tidak akan baik. Ini sesuai sama apa yang dipaparkan dalam salah satu ayat Al Quran -sebenernya ini ayat untuk bagaimana kita seharusnya bersikap kepada orang tua, tapi aku pikir akan berguna juga untuk kita praktekan ke semua orang- jadi tetep bakal aku sampein disini,

فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا  “maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Al Isra:23)

“Uff” disini sebenarnya kurang tepat jika diartikan sebagai “Ah” karena “Uff” bukanlah sebuah kata, melainkan ekspresi. Maka jika ayat ini dijabarkan, urutannya akan tepat seperti apa yang dijelaskan pada penelitian sebelumnya.

-          Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “Uff” (memberikan ekspresi yang buruk) > berperan 55% dari komunikasi

-          Janganlah engkau membentak keduanya (intinasi suara) > berperan 38% dari komunikasi.

-          Ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik > berperan 7% dari komunikasi.

Jadi sekarang kita sudah tau, apa yang sebenarnya paling berpengaruh dalam komunikasi itu adalah ekspresi dan intonasi suara. Sedangkan keduanya amat sangat dipengaruhi oleh emosi, dan emosi asalnya darimana? Dari hati.

Uwah, jadi keduanya amat sangat berhubungan bukan?

Dari sini aku jadi belajar seberapa eratnya hubungan kondisi hati dengan apa yang akan keluar dari lisan kita. Begitu juga apa yang keluar dari lisan dengan keadaan hati kita. Keduanya sama-sama saling mempengaruhi satu sama lain.

Jadi jika kita ingin mulai membersihkan hati, bisa dimulai dengan menjaga apa-apa yang keluar dari lisan kita. Dan jika kita ingin mulai memperbaiki lisan, bisa kita mulai dengan memperhatikan keadaan hati kita.  

Sekian yang bisa aku bagi hari ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil~


Komentar

Postingan Populer