Topeng Kebaikan

Setelah 3 poin sebelumnya bahas gimana seharusnya kita bersikap terhadap orang lain, kali ini kita akan bahas soal gimana seharusnya kita bersikap atas diri kita sendiri.

Hampir atau bahkan setiap dari kita pasti memiliki ‘casing’ saat menunjukan diri kita kepada sekitar. Kita akan menunjukan bagian-bagian baik, dan akan menutup bagian-bagian buruk dari diri kita. Apalagi aib, biasanya akan kita simpan rapat-rapat. Dan itu gapapa, ga salah.

Tapi seringnya kita juga melakukan hal yang sama terhadap diri sendiri, kita akan mengakui bagian-bagian baiknya saja, lalu melupakan keburukan dari diri. Padahal kebaikan manusia itu justru dimulai dari ia bisa jujur atas dirinya sendiri. Termasuk atas setiap kesalahan dan kekurangannya, terutama dihadapan Allah SWT.  

بَلِ ٱلْإِنسَـٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌۭ١٤ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ “Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,  dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al Qiyamah:14-25)

Kalau kemarin kita diminta untuk mengingat kebaikan dan melupakan keburukan orang lain, selanjutnya kita diminta untuk melakukan kebalikannya terhadap diri kita sendiri; mengingat keburukan dan melupakan kebaikan diri. Dan ini gabisa dilakuin kalo kita gamau jujur sama diri sendiri.

“Dusta yang paling buruk setelah dusta kepada Allah dan Rasulnya adalah dusta manusia kepada dirinya sendiri.” Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk tidak berdosa, karena itu bagian dari fitrah kita sebagai manusia. Tapi Allah minta kita untuk bertaubat atas dosa-dosa kita.

Apa alasan Allah membimbing Nabi Adam untuk bertaubat tapi tidak dengan Iblis disaat mereka sama” diturunkan ke bumi karena melakukan sebuah kesalahan? Karena Nabi Adam jujur atas dirinya. Mau mengakui kesalahannya.

Pada saat itu Nabi Adam meninggalkan fakta bahwa ia adalah makhluk yang jauh lebih pintar dibandingkan malaikat, fakta bahwa ia adalah ciptaan terbaik bahkan dibandingkan alam semesta sekalipun. Saat itu Nabi Adam hanya dipenuhi oleh rasa hina karena dirinya telah melakukan dosa, dengan rasa itulah akhirnya Allah menuntun Nabi Adam untuk melakukan taubat.

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ ”Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 23)

Atas dasar pengakuan ini akhirnya Allah menerima taubat Nabi Adam.

Lalu apa yang akan kita dapatkan ketika kita mampu jujur terhadap diri sendiri? 

-          Kerendahan hati dan tawadhu, kita akan terhindar dari rasa ujub dan sombong.

-          Mudah dalam memperbanyak istighfar > malaikat itu identik dengan tasbih, karena tasbih itu layaknya pewangi, malaikat yang sudah bersih -tanpa dosa- akan semakin ‘harum’ dengan tasbih. Sedangkan manusia identik dengan istighfar, karena istighfar itu layaknya deterjen, yang membersihkan noda kotor.

-          Mudah untuk berprasangka baik kepada orang lain. 

Parameter jika syaitan telah berhasil menutup hati kita untuk melihat kekurangan diri adalah dengan disibukannya kita melihat kekurangan orang lain. Maka hati-hati, jika kita sudah lebih sibuk melihat kesalahan orang lain dibanding milik kita sendiri. 

Tips and trick dari salah satu ulama, Hasan Al Bashri, agar kita tidak mudah terbuai dengan kebaikan dan lupa akan maksiat diri sendiri > katakanlah “Dia telah mendahuluiku dalam mengumpulkan pahala” saat melihat orang yang lebih tua dan “Aku telah mendahuluinya dalam kemaksiatan” saat melihat orang yang lebih muda dari kita.

Dengan cara ini, semoga kita jadi mudah ingat, bahwa diri kita sendirilah yang akan bersaksi di akhirat nanti. Maka sebaik apapun kita memakai topeng kebaikan sekarang di dunia, tak akan berfungsi topeng itu nanti di akhirat.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer