Katanya Cinta

Di poin ke sepuluh kali ini kita diajak bertanya kepada diri sendiri,

“Apakah kita cinta dengan agama kita?”

Jika jawabannya iya,

“Maka apakah benar kita cinta sampai berbuah realisasi, ataukah ternyata hanya narasi?”

Jika kita benar cinta, maka layaknya seseorang yang pasti akan melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang ia cintai, begitulah juga seharusnya kita kepada islam. Melakukan apapun yang terbaik, untuk tegaknya islam. Karena keinginan kita pastilah agar seluruh umat manusia juga bisa merasakan manisnya islam.

Cinta atau tidak cinta bisa kita ukur lewat peran kita dalam menolong agamaNya. Bahkan Allah sampai menyebutkan, bahwa siapapun yang menolong agamaNya, pasti Allah langsung yang akan menolong ia.  

وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗۗ “Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” (Al Hajj:40)

Istilahnya ya, Allah langsung lah yang bakal backup hidup orang-orang yang menolong agamaNya. Tapikan Allah Maha Kuat, kenapa kita harus menolong agamaNya?

Kita menolong agamaNya bukan karena Allah lemah, bukan karena Allah butuh bantuan,  tapi karena Allah ingin melihat siapa yang bersungguh-sungguh dalam kesilamannya. Ini jadi sebagai ajang membedakan keimanan dan kekufuran; siapa yang benar-benar beriman, siapa yang beriman hanya katanya saja. Tapi ingat, penilaian ini di mata Allah, bukan untuk kita menilai sesama.

Terus kenapa sampai sekarang belum juga agama Allah dimenangkan?

1.       Masih ada syarat-syarat yang belum terpenuhi sebagai standar kemenangan.

-          Sholat : sholat itu faktor utama kemenangan, jika sholat saja sebagai tiang agama sudah diremehkan, apalagi yang lainnya. Pasti akan lebih mudah diremehkan, karena fungsi sholat adalah sebagai pengekang hawa nafsu.

-          Zakat : fakir miskin adalah salah satu alasan dimenangkannya agama islam. Menunaikan zakat bisa berarti sama dengan memperbaiki roda ekonomi, agar harta tidak hanya berputar dikalangan orang kaya saja.  

-          Amar ma’ruf nahi munkar : masalah yang terjadi sekarang ialah maksiat yang telah terlihat biasa, dan malah kebaikan yang seringkali terlihat aneh dan asing. Maka dengan ditegakannya amar ma’ruf nahi munkar, tujuannya agar menjadikan kemunkaran kembali asing, dan kebaikan kembali menjadi familiar.

2.       Kemaksiatan yang masih menyebar.

-          “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri"” (Ali Imran:165) kekalahan pada perang uhud disebabkan kemaksiatan para sahabat tidak menaati perintah rasul.

-          Abu Darda pernah berkata, “kita memerangi musuh Allah bukan karena kekuatan fisik kita, tapi karena kekuatan iman kita”

-          Kebatilan itu sejatinya tidak pernah kuat, karena tidak bersandar kepada Allah. Tapi kenapa sekarang kebatilan seakan-akan terlihat kuat? Karena lemahnya orang-orang yang berjalan diatas kebenaran dalam meninggalkan kebatilan.

3.       Banyaknya pertikaian dan permusuhan.

-          Tidak hanya selain orang muslim, tapi sekarang sudah menjadi biasa pertikaian diantara sesama muslim. Padahal dengan begitu sebenarnya kita sedang membantu musuh Allah. Memudahkan usaha mereka dalam menghancurkan kita, karena bahkan kita sendiri sedang menghancurkan sesama kita.

-          Poin ini akan nyambung ke tulisan kemarin, ‘Penyakit Si Perfeksionis’, karena berbeda itu wajar, yang ga wajar itu kalau bermusuhan hanya karena berbeda.

Orang yang besar itu mereka yang memikirkan hal-hal besar. Sesuatu yang bervisi surga, bukan sekedar hal-hal dunia. Maka dari ayat ini kita diajak berfikir, sudahkan kemenangan islam kita jadikan visi hidup kita? Karena bahkan balasannya adalah bantuan Allah langsung terhadap hidup kita.

Bukan berarti kita tidak boleh berfikir ingin punya harta sekian, ingin punya kendaraan bagus, ataupun ingin masuk sekolah bergengsi. Tapi sudahkah semua itu sejalan lurus dengan tujuan kita memenangkan agamaNya? Ataukah ternyata semua target itu kita jadikan tujuan akhir pemberhentian kita?

Karena dalam urusan keturunan saja Rasul bersabda,

"Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah engkau siapakah yang mandul?”

Para sahabat menjawab; “Orang yang mandul ialah orang yang tidak mempunyai anak”

Lalu Rasulullah bersabda; “Orang yang mandul ialah orang yang mempunyai banyak anak, tetapi anak-anaknya tidak memberi manfaat kepadanya sesudah ia meninggal dunia.

(HR. Ahmad)

Maka sebenarnya sebuah kerugian bukanlah disaat kita tidak punya apapun di dunia, tapi ketika apa-apa yang kita miliki di dunia sekarang tidak bisa mengantarkan kita ke surgaNya.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer