Mengenal Hawa Nafsu

Seringkali seseorang tidak menggenggam kebenaran bukan karena mereka tidak memahami kebenaran, tapi karena lebih memilih hawa nafsunya. Kebenaran datang daripada Allah, pemilik segala ilmu, maka sudah fitrahnya kebenaran datang dalam bentuk yang paling mudah dipahami oleh manusia.

Apakah Abu Jahal memusuhi islam karena ia tidak mengerti kebenaran yang dibawa oleh islam? Bukan. Justru karena Abu Jahal paham betul bahwa kebenaran islam akan menghancurkan pola hidup kaum quraish pada saat itu, maka ia dan kaumnya memusuhi islam.

فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْۗ “Maka jika mereka tidak menjawab (mengikuti Rasulullah), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka.” (Qs.Al-Qasas:50)

Hawa Nafsu = Keinginan -tanpa petunjuk islam.

Analogi kebenaran dan hawa nafsu seperti matahari dan jendela rumah. Jika jendela rumah terkotori dengan debu atau disini hawa nafsu, maka cahaya matahari akan sulit masuk. Tapi jika jendela kita bersih, maka cahaya matahari akan lebih mudah untuk masuk.

Maka tak salah, jika menasihati itu tentang bagaimana kita menjalani kewajiban kita, bukan soal merubah orang lain. Soal apakah orang tersebut berubah atau tidak, itu keputusannya; apakah ia akan memilih kebenaran, ataukah hawa nafsunya. Tugas kita adalah untuk terus bersabar mengarahkannya kepada kebenaran.

Selain itu, ayat ini juga menjadi teguran langsung kepada kita para penuntut ilmu yang suka memilah-milih pendapat para ulama tergantung mana yang paling ringan, mudah dan longgar. Berhati-hatilah, karena bisa jadi kita hanya sekedar sedang memberikan kepuasan kepada hawa nafsu kita, dan bukannya bersungguh-sungguh memilih mana pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, walaupun sebenarnya sah-sah aja untuk memilih mana pendapat yang paling ringan.

Karena sering terjadi, mereka yang memilih hukum hanya untuk membenarkan kebiasaannya. Contoh adalah tentang hukum rokok, apakah makruh atau haram. Mereka yang memilih makruh bisa jadi hanya karena ingin menuruti kemauannya saja; hawa nafsu, namun dengan bangganya berlindung dibalik perbedaan pendapat ulama.

Padahal perbedaan pendapat ulama hadir untuk kita kaji ilmunya dan mencari mana yang sekiranya paling dekat dengan kebenaran menurut sudut pandang dan situasi kita, bukan hanya saja mencari mana yang paling ringan.

Begitu juga pesan imam Ahmad dalam memilih jodoh, pilihlah yang paling tidak disukai oleh hawa nafsu, karena sesungguhnya disana ada kebaikan kahirat -disini tentu juga tanpa mengabaikan kecenderungan.

Ingatlah bahwa hawa nafsu selalu menolak kepada syurga. Dengan memahami ini, harapannya kita akan jadi lebih memahami kenapa kita harus melawan hawa nafsu, dan makin mengerti mana yang termasuk bagian dari hawa nafsu; yaitu yang tidak sesuai dengan yang Rasul ajarkan.

Kalau ada medan peperangan yang sekarang sedang kita hadapi, maka satu-satunya lawan terberat adalah hawa nafsu kita sendiri.

Maka doanya, semoga kita selalu diberikan kekuatan dan arahan dalam melawannya.

Aamiin.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer