Menjadi Optimis

Kali ini tentang “optimisme”, poin kedua sekaligus poin yang akhirnya motivasi aku untuk mulai buat blog ini.

Optimisme terbaik adalah optimis yang dibangun diatas kalamNya. Setelah kemarin ucapan kita berbanding lurus dengan kualitas hidup, kali ini optimisme berbanding lurus dengan pemahaman kita terhadap takdir.

Pemahaman atas takdir = Tingkat optimisme.

Takdir disusun berdasarkan ilmu Allah yang amat sangat tidak terbatas, ditambah sifat rahmanNya yang tidak bertepi. Takdir datang dari Sang Pencipta yang kebenaran hanyalah milikNya. Yang mengetahui apa yang terjadi di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Lalu bagaimana kita yang hanya bisa melihat waktu sekarang, rabun terhadap masa lalu dan buta terhadap masa depan bisa tidak mempercayakan nasib kita padaNya?

Takdir Allah tidak pernah ada yang bersifat mendzolimi manusia. Jadi seburuk apapun keadaan yang sedang kita alami sekarang, pasti akan berujung pada sesuatu yang baik; apapun itu. Seperti dijelaskan dalam Al Quran,

عَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.”(Al-Baqarah:216)

“Iya sih udah tau kalo semua pasti udah yang terbaik, tapi tetep aja pas ngejalaninnya masih ada kekhawatiran-kekhawatiran yang akhirnya buat kita kembali ragu.”

Maka sebenarnya kekhawatiran-kekhawatiran itu yang perlu dipertanyakan. Bagaimana masih punya kekhawatiran disaat kita sudah paham apapun yang akan kita dapat kedepannya sudah pasti yang terbaik?

Mereka yang sudah paham bahwa apapun yang akan mereka dapat kedepannya sudah terjamin, maka akan lebih fokus terhadap apa yang bisa ia lakukan sekarang. Mereka akan mencari apa yang bisa ia usahakan dan bagaimana cara agar bisa memaksimalkan apa yang mereka miliki sekarang.

Jadi kalo sekarang lagi ramai konsep ‘fokus hidup di waktu sekarang’, sebenarnya inilah kunci utamanya. Optimisme yang dibangun atas dasar rasa percaya terhadap takdirNya.

Karena tak pernah ada yang salah dalam takdir, kalaupun ada yang salah maka itu adalah hati kita yang keruh dalam memandang takdir. 

Lalu apa sebenarnya alasan Allah membebani kita dengan takdir ujian yang berat?

Ada beberapa jawaban yang dijelaskan, tapi ada satu yang begitu berbekas: karena sayang Allah padamu, maka Ia ingin lembaran amalmu diisi oleh pahala kesabaran. Sedangkan salah satu amalan yang paling berat ditimbangan nanti adalah pahala kesabaran.

Dengan konsep optimisme inilah akhirnya aku memilih untuk lebih fokus berbagi apa yang bisa aku bagi, agar kekhawatiran-kekhawatiran yang ada ga lagi jadi fokus sehari-hari.

Jadi kalau kalian harus memilih, fokus apa yang ingin kalian pilih?

 

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer