Meremahkan Amal

Pada poin ke 13 ini kita diajak belajar dari ayat,

بَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا “(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu.” (Qs.An-Nisa:11)

Bahwa jangan sampai kita membeda-bedakan anak, apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia lebih pintar dari saudara-saudaranya yang lain, kita harus tetap adil dalam memberikan kasih sayang. Karena kita tidak pernah tahu mana yang nantinya, entah itu saat tua atau saat di akhirat, siapa yang akan memberikan manfaat paling banyak kepada kita.

Termasuk juga anak yang melampaui batas, kelebihan bandel misalnya, bisa jadi justru hal tersebut yang akan jadi jalan hidayah untuk kita. Atau bahkan pasangan yang belum dikaruniai anak, dari kisah nabi khidir yang membunuh seorang anak karena mengetahui anak tersebut akan mengkafirkan orang tuanya di masa depan, bisa jadi Allah juga sedang menjaga iman kita lewat jalan tersebut.

Ini bahasan utama dari ayat ke 13 kali ini. Tapi karena kurang relate dengan posisi aku sekarang, aku akan bahas ini sekilas sesuai yang aku pelajari aja.

Selain bagaimana orang tua tidak boleh meremehkan kasih sayang kepada setiap anak-anaknya, konsep dari ayat ini juga mengajarkan hal yang sama kepada kita dalam memandang setiap amal perbuatan.

Jangan sampai kita meremehkan sekecil apapun amal perbuatan yang kita lakukan, karena bisa jadi justru amal yang terlihat kecil di mata kita-lah yang akan memasukan kita ke surgaNya.   

Dari Abu Buraidah, Rasulullah memanggil Bilal pada pagi hari seraya berkata, “Wahai Bilal, kenapa engkau mendahuluiku masuk surga? Aku tidaklah masuk surga sama sekali melainkan aku mendengar suara sendalmu di hadapanku. Aku memasuki surga pada malam hari dan aku dengar suara sendalmu di hadapanku.”

Bilal bin Rabah lantas menjawab pernyataaan Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku biasa tidak meninggalkan shalat dua raka’at sedikit pun. Setiap kali aku berhadats, aku lantas berwudhu dan aku membebani diriku dengan shalat dua raka’at setelah itu.

Padahal kita tahu seberapa besar perjuangan Bilal saat disiksa oleh Umayyah, meski ditiban batu ditengah panasnya gurun pasir, ia tetap bertahan pada agama Allah. Kita juga tahu bahwa Bilal adalah muazin Rasulullah, menjadi salah satu sahabat yang dimuliakan dengan tugasnya tersebut. Tapi amalan apa yang justru membuat suara sandalnya terdengar di surga? Menjaga wudhu dan sholat dua rakaat setiap selesai berhadats.

Artinya bisa jadi ‘amalah besar’ yang kita anggap akan memasukan kita ke surga ternyata tidak diridhoi oleh Allah. Tapi ‘amalan kecil’ yang tidak pernah terpikirkan manfaatnya oleh kita, justru itulah yang akan memasukan kita ke surgaNya.

Maka dari sini kita bisa belajar, bahwa jangan sampai kita meremehkan setiap kebaikan yang bisa kita usahakan. Karena kita tidak pernah tahu, amalan mana yang akan diridhoi dan mengantarkan kita ke surgaNya.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer