Penyakit Si Perfeksionis

Suka ga sih kita susah bekerja sama bareng orang lain? Karena biasanya standar yang kita punya terlalu tinggi, sehingga daripada kita harus kerja bareng sama orang lain yang seringkali atau bahkan pasti punya standar yang berbeda dari kita, akhirnya kita milih buat mending kerja sendiri aja. Apalagi biasanya buat para perfeksionis. Yang akhirnya hal kayak gini malah jadi penyakit untuk diri sendiri, sehingga kita jadi lebih susah untuk menghargai orang lain, atau bahkan sekedar berempati kepada mereka.

Kali ini kita akan belajar dari kisah perang Tabuk. Yang mana pada saat itu banyak sahabat yang tidak bisa ikut berperang karena masalah finansial, tapi Allah tidak mencela mereka. Bahkan Allah sendiri yang membela, bahwa ketidak ikut sertaannya mereka dalam perang bukan karena mereka munafik ataupun ketakutan,

مَا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ “Tidak ada alasan apa pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (At Taubah:91)

tapi karena mereka sudah berusaha semampu mereka, namun setelah mengusahakan sekalipun, mereka masih belum mampu memenuhi kebutuhan untuk berperang. Dan itu gapapa. Malah Allah ingin tanjukan, bahwa Ia hargai hal tersebut.

Ayat ini ingin mengajarkan kita seni dalam memahami, berempati sampai mengapresiasi. Bahwa jangan sampai kita begitu mudah mencela saat dihadapkan dengan kekurangan ataupun kesalahan orang lain. Karena bisa jadi mereka sudah melakukan yang terbaik sebisa mereka, hanya saja hasilnya belum bisa sebaik yang kita bayangkan.

Ini ngingetin aku dengan salah satu kisah yang aku dapetin dari buku “How to win friends and influence people.” Buku ini membawakan tema tentang bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Dalam kisah tersebut ada seorang manager yang menanggungjawabi sebuah proyek, pada suatu ketika proyek tersebut menyebabkan kerugian yang cukup besar terhadap perusahaan. Saat sang manajer menghadap bos, alih-alih dimarahi, sang bos malah mengapresiasi hasil kerjanya. Karena bosnya tahu bahwa meskipun perusahaan tersebut mengalami kerugian, tapi ia telah melihat bahwa sebelumnya manager ini sudah melakukan yang terbaik termasuk melakuakan beberapa pencegahan sehingga kerugian perusahaan tidak sebesar yang seharusnya.

Kalau kita melihat hanya pada kesalahannya saja, mungkin semua orang di sekitar kita akan selalu pantas untuk kita salahi. Kalau kita melihat hanya dengan sudut pandang kita, mungkin semua orang pantas untuk kita sebut salah. Padahal tidak semua orang punya kapasitas yang sama dengan kita. Bisa jadi yang terlihat mudah bagi kita sebenarnya itu sulit untuk orang lain, atau bahkan bisa jadi sebaliknya dalam perkara yang lain. 

Maka, mulailah kita lebih menghargai sekitar. Tapi bukan berarti hal ini menjadi pembenaran bagi mereka yang berbuat salah, bukan juga sebagai penggunggur kewajiban kita saling menasihati. Tapi sebagai pemakluman disaat mereka yang selama ini punya track record baik sedang melakukan kesalahan, jangan sampai segudang kebaikannya jadi luntur hanya karena satu-dua kesalahannya.

Begitu juga disaat kita melihat orang lain melakukan kesalahan, bisa jadi ada alasan dibalik perbuatan mereka, yang kita tidak tahu. Menuntut kesempurnaan itu memang wajar, tapi memberikan empati disaat sesuatu tidak sesuai ekspetasi itu kewajiban. Karena cukuplah kita pantas disebut semena mena, disaat kita tidak menyisakan ruang untuk memaklumi orang lain.

Ayat ini hadir kepada kita sebagai reminder, kalaulah Allah saja menghargai kita sebagai manusia atas setiap usahanya, siapalah kita yang begitu mudah menghakimi kesalahan satu sama lain?

Semoga dengan adanya reminder dari ayat ini, kedepannya kita bisa jadi lebih mudah untuk memahami, berempati, dan apresiasi orang lain.

Aamiin.  

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer