Setelah Bertakwa

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ  “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar” (Qs.At-Taubah:119)

Ayat ini sedang berbicara kepada kita, orang yang beriman. Kita diperintahkan untuk bertakwa, lalu selanjutnya perintah untuk membersamai diri dengan orang-orang yang benar disandingkan langsung setelah perintah untuk bertakwa. Ini mengantarkan makna seberapa pentingnya kita berada di lingkungan yang menjadikan kejujuran adalah prinsip hidup.

Orang disekitar kita itu seperti cerminan diri kita, entah kita yang akan mempengaruhi atau terpengaruhi. “Tidak akan tegak ketakwaan seseorang sampai ia mengganti komunitasnya dengan komunitas yang jujur.” Sebab ketakwaan tidak berasal dari kedustaan.

Jujur itu fitrah manusia. Maka jangan sampai kita menanggalkan fitrah kita, karena ‘sistem’ sekitar yang memaksa kita untuk tidak jujur.

Contoh nyata ‘sistem’ yang telah menjadikan kejujuran terasa mahal adalah tren prank orang, atau april mop? Dalam budaya kita diperlihatkan bahwa hal-hal tersebut biasa aja, toh cuma bercandaan. Padahal kedustaan walaupun dalam konteks bercanda konsekuensinya tidak pernah ringan di sisi Allah SWT.

Sebesar itulah pentingnya jujur.

Karena bahkan jika sudah sebaik, seluar biasa apapun kita memberikan hadiah kepada teman kita, tapi teman kita tahu kalau ada kedustaan dibaliknya, pasti tetap kekecewaan yang akan dirasakan teman kita tersebut bukan? Itu baru dalam konteks sesama manusia, bagaimana jika konteksnya adalah antara kita dengan tuhan kita?

Maka jujur tidak hanya dalam perkataan dan perbuatan, tapi juga dalam keyakinan. Jika kejujuran dalam keyakinan sudah kita miliki, maka pasti dua kejujuran lainnya akan otomatis mengikuti. 

Iman dibagi menjadi dua; yang dibenarkan oleh Allah dan yang didustakan oleh Allah. Mereka yang nantinya mampu menjawab pertanyaan dari Munkar Nakir di alam kubur, adalah mereka yang imannya dibenarkan oleh Allah SWT; mereka yang jujur atas keimanannya.

Sangat mudah bagi manusia untuk bernarasi, mengatakan “Saya beriman” namun perbuatannya tidak selayaknya orang beriman. Ini yang dinamakan tidak jujur dalam keimanannya.

Mungkin mereka terlihat sangat beriman di depan banyak orang, mengejar kepercayaan manusia lewat perkataan dan perbuatannya, padahal ada Allah yang lebih perlu kita kejar kepercayaannya dibandingkan dengan manusia. Maka inilah seharusnya asal muasal utama resah dan khawatir kita, sudah kah iman kita termasuk keimanan yang dibenarkan oleh Allah SWT?

Mengelilingi diri dengan mereka yang jujur akan memudahkan kita dalam jujur juga. Meskipun kita tidak tahu kejujuran dalam keimanan mereka, tapi setidaknya kita sudah tidak menceburkan diri kepada 'sistem' yang akan memaksa kita untuk melakukan kedustaan.

Sebab kedustaan hanya akan mengantarkan kita kepada kegelisahan, disaat jujur akan mengantarkan kita kepada ketenangan, dan ketenangan adalah salah satu sumber kebahagiaan.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer