Tambah Kurang Beban Hidup
Suka ga sih, ngerasa masalah yang sedang kita hadapi begitu besar? Padahal kalo kita pikir-pikir lagi, masalahnya ga besar-besar amat. Tapi disaat yang bersamaan, gatau juga kenapa bisa kita menilai masalah tersebut lebih besar dari yang seharusnya. Dan mungkin, topik kali ini bisa jadi salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut!
Kali ini kita akan membahas soal keadilan.
Definisi keadilan ialah
memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Maka sikap adil
adalah saat dimana kita meletakan masalah tepat pada konteksnya, dan tidak
melebar kemana-mana. Fokus pada pihak yang salah, dan tidak melebar ke pihak
lainnya.
Kalau masalah tidak disikapi sesuai konteksnya, maka hal tersebut
sudah termasuk ketidakadilan.
Contohnya ada pada kisah Firaun. Saat Firaun bermimpi bahwa kekuasaannya
akan diambil oleh seorang anak Bani Israil, ia tak sungkan-sungkan untuk
memerintahkan pasukannya membunuh semua anak laki-laki yang baru lahir. Padahal
semua anak laki-laki tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan mimpi
Firaun. Dan pada akhirnya keputusan tersebut malah menjadikan banyak bayi tak
berdosa terbunuh. Ini adalah salah satu contoh nyata bagaimana seseorang tidak
menempatkan masalah tepat pada konteksnya.
Terkadang kita suka asal menyalahi atau bahkan memarahi banyak
pihak, yang padahal gaada sangkut pautnya sama sekali dengan masalah yang
sedang kita hadapi. Hanya karena sedang emosi misalnya, orang sekitar kita bisa
jadi ikut kena imbasnya. Padahal masalah yang kita hadapi bukan salah mereka.
Misal kita punya masalah dengan teman di kampus, lalu emosi
tersebut masih kita bawa sampai pulang ke rumah. Saat kumpul makan malam, adik
kita ga sengaja nginjek kaki kita. Masalah yang harusnya bisa selesai hanya
dengan si adik meminta maaf, bisa-bisa jadi panjang karena marahnya kita yang
berlebihan. Bukan karena sekedar marah si adik nginjek kaki kita, tapi juga
karena masih ada emosi dari masalah yang belum kita selesaikan dengan teman di
kampus tadi. Jadilah kesalahan kecil si adik, bisa jadi besar hanya karena
pengaruh emosi yang masih kita miliki sebelumnya.
Misalnya lagi kita sedang ga suka dengan teman sekelas kita, tapi
karena itu, kita juga jadi ga suka dengan semua kakak dan adiknya, padahal kita
ga bener-bener kenal gimana kakak dan adiknya. Ya karena ga suka aja sama dia,
jadi kita ga suka semua keluarganya. Kedua permisalan ini sudah termasuk tidak
menempatkan sesuatu tepat pada konteksnya.
Sikap-sikap seperti ini tidak akan membuat masalah kita berkurang,
yang ada malah akan semakin besar. Karena tanpa kita sadari, dengan melibatkan
orang-orang di luar masalah kita menjadi bagian dari masalah kita, sebenarnya
kita sedang memperbesar masalah kita sendiri.
اَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۙ “Bahwa seseorang yang berdosa tidak akan
memikul dosa orang lain” (An Najm:38)
Ayat ini bicara soal fondasi dalam ranah keadilan. Saking
pentingnya, ayat ini sampai diulang 5 kali dalam Al Quran.
Allah tidak pernah membebankan dosa yang dilakukan hambanya kepada
hamba yang lain. Begitulah kita seharusnya memakai ayat ini pada kehidupan
kita, jangan suka menambah masalah dengan menumpahkan kesal, marah, dan emosi
negatif lainnya kepada orang yang sebenarnya tidak bersalah hanya karena mereka
sedang berada di sekitar kita.
Kebijaksanaan ini bisa kita contoh dari sikap nabi saat dihinakan
penduduk Thaif, tetapi nabi tetap mendoakan kebaikan kepada keturunan mereka.
Padahal disaat itu malaikat justru menawarkan kebinasaan bagi penduduk Thaif.
Atau sikap nabi kepada Ikrimah, anaknya Abu Jahal. Nabi memang
bermusuhan dengan Abu Jahal, tapi fakta tersebut tidak membuat nabi membedakan
Ikrimah dengan sahabatnya yang lain.
Dari sini kita bisa belajar tentang seberapa pentingnya kita
menguasai seni menempatkan masalah pada tempatnya. Misal kita sedang punya
masalah di kantor, maka selesaikan atau bahkan tinggalkan masalah tersebut di
kantor, jangan sampai terbawa sampai rumah. Atau yang lebih relate lagi
misal saat kita sedang punya amarah dengan orang tertentu, maka selesaikan
amarah tersebut hanya dengan orangnya, jangan sampai amarah tersebut malah kita
luapkan kepada orang lain, atau lebih parahnya amarah tersebut malah kita
jadikan bahan bakar bagi amarah orang lain. Wah, bakal jadi lebih parah sih itu
nantinya.
Jadi semoga, setelah belajar dari ayat ini kita bisa jadi lebih
bijak dalam menempatkan masalah sesuai pada konteksnya.
Aamiin.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar