Tidak Berdusta Perbaiki Bangsa

Setelah kemarin bahas tentang jujur, kali ini tentang kebalikannya, yaitu dusta. Salah satu perbuatan yang dibenci banyak orang, tapi disaat yang bersamaan, juga banyak orang yang melakukannya dengan sangat mudah.

Kalau ditanya, memang balasan dari berdusta itu apa?

وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرٰى “Dan sesungguhnya kebinasaan bagi mereka yang berbuat dusta” (Taha:61)

Jawabannya, kebinasaan. Rata-rata kita akan menjumpai ayat ini diartikan sebagai ‘merugi’ di banyak terjemahan, padahal maknanya lebih dari itu.

Dusta adalah awal mula daripada segala kerusakan. Ibnu Qayyim berkata, “Bangsa yang besar ialah bangsa yang setiap komponennya meletakan kejujuran dalam kultur kehidupan mereka”. Bisnis saja bisa hancur hanya karena satu-dua kedustaan, apalagi sebuah bangsa.

Sedangkan diri kita sendiri adalah bagian dari sebuah bangsa, maka tak salah jika memperbaiki bangsa adalah tentang memperbaiki diri sendiri.

Perbaiki Bangsa = Perbaiki Diri.

Jujur dan dusta adalah sifat yang membedakan antara orang mukmin dan munafik. Rasulullah sempat bersabda, bahwa dusta itu akan menjauhkan kita daripada keimanan. Watak seorang muslim memang dapat berbeda-beda, ada yang pemarah, pemalu, tegas, lembut. Tapi nabi memberi batasan, bahwa tak ada satupun dari seorang mukmin yang berwatak pendusta. 

Ditanyakan kepada Rasulullah, “Mungkinkah seorang Mukmin itu pengecut?”

”Mungkin,” jawab Rasulullah.

“Mungkinkah seorang Mukmin itu bakhil?”

”Ya, mungkin,” lanjut Rasulullah.

“Mungkinkah seorang Mukmin itu pembohong?”

 Rasulullah menjawab, “Tidak!”

(Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwatta’ & Imam al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Kita pasti sudah tahu kalau berdusta kepada sesama itu dilarang. Selain dosanya yang besar, ganjaran dari berbuat dusta adalah sesuatu yang akan dibayarkan langsung cash di dunia, sebelum nanti di akhirat. Kataku sih ya, udahlah mending hidup jujur-jujur aja. Daripada nanti di dunia susah, lebih-lebih lagi di akhirat, repot kan. Udah mana, dusta itu ga mungkin hanya dilakukan sekali; satu dusta pasti akan mengantarkan kepada kedustaan-kedustaan selanjutnya.

Di tulisan kemarin juga sempat disinggung bahwa “Dusta yang paling buruk setelah dusta kepada Allah dan Rasulnya adalah dusta manusia kepada dirinya sendiri.” Nah, memang dusta kepada Allah dan Rasul itu yang seperti apa sih?

Dusta kepada Allah ialah berani lancang dan mengubah hukumNya sesuai kehendak diri; menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal. Selain itu, berani berdusta dihadapan manusia atas namaNya juga termasuk dusta terhadap Allah. Nah ini yang suka terlewati banyak dari kita, kadang kita suka seenaknya bersumpah atas nama-Nya padahal hanya untuk sesuatu yang tidak serius, atau bahkan sengaja hanya untuk bermain-main.  

Dusta kepada Rasul ialah dengan berani menyandarkan hadits atas nama rasulullah padahal rasul tidak pernah menyampaikannya. Dan yang kedua, lagi-lagi yang suka terlewat dari kita, suka memilah-milih sunnah. Mana yang cocok akan kita ambil, dan mana yang engga akan kita tolak. Ga sedikit nih dari kita yang suka kayak gini, ngikutin mood aja mana yang mau diambil dan mana yang engga. Padahal tak apa memang kalau kita belum bisa menjalankan semua sunnah, tapi jangan sampai kita menolaknya. Karena ini sudah bagian dari mendustakan Rasulullah.

Hasil berdusta kepada sesama manusia saja sudah bisa membuat hidup kita susah, bagaimana kalau kita berdusta terhadap Allah dan RasulNya bukan? Naudzubillah.

Terakhir doanya, semoga kita bisa termasuk bagian dari mereka yang pantas disebutkan sebagai shadiqin,

 أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar." (At Taubah:119)

Aamiin.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

 

Komentar

Postingan Populer