Yang Terbaik

Kali ini kita akan bahas standar apa yang harus kita pakai untuk memilih seorang pemimpin. Tidak hanya dalam memilih pemimpin negara, tapi juga pemimpin organisasi, proyek, atau pemimpin apapun itu.

Bahkan sempat dibahas juga bagaimana standar ini bisa dipakai sebagai panduan bagi laki-laki yang notabenya akan ataupun sudah menjadi pemimpin keluarga. Tapi karena itu bukan bagianku, jadi mari kita bahas secara umumnya aja~

اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ “sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (Al-Qasas:26)

Di ayat ini digambarkan salah satu putri Nabi Ayyub yang sedang menyarankan agar Nabi Musa dipekerjakan oleh ayahnya, sebab karakter Nabi Musa yang kuat dan dapat dipercaya.

Jadi standarnya ada dua: kuat dan dapat dipercaya. Kuat yang dimaksud disini tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga tegas secara prinsip.

Dalam Al-Quran, mereka yang hebat selalu digambarkan dengan dua karakter ini. Contohnya, siapa sih yang ga kenal dengan Malaikat Jibril? Malaikat terbaik, bahkan pemimpinnya para malaikat.

“Sesungguhnya (Al-Qur'an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),  yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy,  yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya.” (Qs.At-Takwir:19-21)

Ada juga Jin Ifrtit, sang raja dari bangsa jin.

‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (Qs.An-Naml:39)

Bahkan Rasul sendiri selalu mengajarkan bahwa dalam memilih komandan perang tidak harus selalu dia yang paling soleh. Karena jika begitu, maka Abu Bakar akan selalu jadi komandan dalam setiap peperangan.

Sempat juga dibahas, kalau ada diantara dua orang calon yang satu kuat namun bermaksiat, lalu yang satunya lemah namun taat, mana yang lebih patut dijadikan pemimpin? Jawabannya adalah dia yang kuat namun bermaksiat.

Karena maksiatnya adalah urusan dia dengan Allah, sedangkan kuatnya akan memberikan manfaat kepada umat yang ia pimpin. Jika yang lemah namun taat, maka ketaatannya hanya akan untuk dirinya sendiri, dan lemahnya akan mendzolimi seluruh umat yang ia pimpin. Meskipun, yang kuat namun taat lebih didahulukan.

Dari pembahasan kali ini kita jadi belajar bahwa dalam Al-Quran sudah Allah tetapkan dua karakter tersebut sebagai standar utama bagi mereka yang patut disebut terbaik. Dan menurutku, ga salah sih kalau dua karakter ini juga kita miliki. Karena bahkan, kuat itu bisa dilatih.

Kuat secara fisik tak selalu harus bicara soal mampu berperang dan semacamnya, khususnya bagi kita yang perempuan, kuat secara fisik sudah cukup diartikan dengan menjaga fisik agar tetap fit dan sehat.  

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan,” (HR. Muslim).

Kuat secara prinsip juga bisa kita latih lewat terus menuntut ilmu agama. Sebab dibalik prinsip yang kuat, pasti ada aqidah yang kita pegang erat-erat.

Terakhir soal dapat dipercaya. Dapat dipercaya bukan aja soal jujur, tapi juga soal bagaimana kita menjaga setiap tanggung jawab dan amanah yang kita miliki. Kalo kataku ini bukan karakter yang harus dimiliki pemimpin aja sih, tapi juga kita semua sebagai muslim.

Sekian aja untuk hari ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil~

 

Komentar

Postingan Populer