Anti Hoax
Diceritakan ada seorang sahabat bernama Walid bin Uqbah, saat itu ia sedang diutus Rasul untuk mengumpulkan zakat dari Bani Musthaliq. Namun masih di pertengahan jalan, Walid bin Uqbah memilih balik arah dan kembali ke Madinah.
Sesampainya di Madinah ia membuat laporan palsu
kalau Bani Musthaliq menolak membayar zakat, bahkan mengatakan mereka juga berniat
membunuhnya. Mendengar ini Rasul langsung menyiapkan utusan untuk dikirimkan ke
Bani Musthaliq.
Di pertengahan jalan, utusan Rasul bertemu dengan
Bani Musthaliq yang juga sedang melakukan perjalanan ke Madinah, dengan niat
ingin menanyakan kenapa utusan yang akan mengambil zakat mereka belum juga
kunjung datang? Barulah disitu mereka tahu, ada kesalahan informasi dari kedua
belah pihak.
Inilah sebab turunnya ayat,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ
بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا
عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ .”Wahai
orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa
suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu
kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu
itu.” (Qs.Al-Hujurat:6)
Tidak bisa dipungkiri bahwa ini nyata terjadi di sekitar kita. Banyak
berita, tulisan atau bahkan video yang beredar tanpa kita tahu bagaimana
kebenarannya. Disinilah Allah memerintahkan kita untuk tabayyun; telitilah
kebenarannya, atau gampangnya, re-check.
Ada dua Langkah dalam memastikan kebenaran,
1.
Pastikan apakah kejadian tersebut benar-benar terjadi,
dan
2.
Pastikan bagaimana konteks kejadiannya secara utuh; latar
belakang, kondisi, alasan, dll.
Karena bisa jadi sesuatu yang kita lihat memang benar terjadi,
tapi persepsi yang kita simpulkan dari kejadian tersebut salah.
Misal kita melihat teman laki-laki kita minum di kala ramadhan,
memang benar kita melihat dia minum. Tapi segera setelah itu kita menyebarkan
berita ‘kalau dia minum di kala ramadhan’ tanpa tahu alasannya, hal tersebut bisa
jadi termasuk fitnah. Karena bisa saja dia sedang sakit yang tidak memungkinkannya
untuk puasa di saat itu, tapi karena kita tidak ‘tabayyun’ dengan dua langkah tadi,
akhirnya kita hanya menilai suatu kejadian melalui persepsi kita saja.
Ini mengajak kita untuk banyak-banyak memberikan udzur terhadap
saudara kita, sebab kita tidak perna tahu apa sebenarnya niat dibalik yang mereka
lakukan. Jangan sampai kesimpulan sepihak kita menjadikan saudara kita terfitnah.
Bahkan sampai ada nasihat, jika kita tak lagi menemukan udzur bagi
saudara kita maka katakan, “Mungkin ia memiliki udzur yang tidak aku ketahui”
“Sesungguhnya setan mengalir pada diri Bani
Adam seperti aliran darah, sesungguhnya aku khawatir setan akan menanamkan
keburukan dalam hati kalian berdua.”
(al-Bukhari dan Muslim)
Rasul mensabdakan hadits ini di kala malam hari
beliau sedang jalan berdua dengan Shofiyyah, lalu ada dua sahabat yang
mempercepat langkahnya disaat berpas”an dengan Rasul. Lalu Rasul memanggil
mereka berdua dan menjelaskan bahwa yang disebelah beliau ini adalah istrinya.
Ini mengajarkan kepada kita jangan sampai juga
kita menjadi sumber prasangka buruk terhadap saudara kita. Jangan sampai kita
malah menjadi sumber dosa bagi mereka.
Misal saat itu kita sedang dibonceng dengan om
mahram kita, lalu kebetulan ada teman kita yang melihat. Maka usahakan untuk
menjelaskan hal tersebut sesegera mungkin kepada mereka, sebelum terlanjur ada
prasangka buruk dalam diri mereka.
Bayangkan jika setiap muslim mengamalkan
tabayyun ini, maka umat islam akan menjadi umat PALING DAMAI sedunia! Karena kita
tak lagi akan mudah tersulut dengan berita-berita tanpa kepastian. Kita akan
memeriksa setiap kabar yang datang kepada kita. Kalaupun ada saudara kita yang
terlihat sedang melakukan kesalahan, kita tidak akan mudah untuk langsung
berburuk sangka.
Dari ayat ini kita diminta bahkan diajarkan
untuk tidak mudah mengikuti prasangka sepihak saja. Allah telah menurunkan sistem
untuk membuktikan kebenaran; yaitu tabayyun.
Selain untuk tabayyun, pada episode kali ini
kita juga diajak untuk jangan sampai mudah kepo dengan urusan orang lain. Karena
dengan kita mengetahui aib mereka, maka ada konsekuensi untuk menjaga aib
tersebut. Jika kita tidak berhasil menjaganya, maka nanti Allah yang tidak akan
menjaga aib-aib kita -naudzubillah.
Sekian untuk hari ini, lumayan Panjang ya.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar