Apa Itu Takaran Kehormatan?
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ اَشْيَاۤءَهُمْ ”Dan jangan kamu merugikan (mengurangi takaran) orang sedikit pun” (Qs.Al-Araf:85)
Ternyata takaran tidak hanya soal timbangan, tapi
juga ada takaran kehormatan. Kita sering mendengar bahasan soal menjaga takaran
timbangan, tapi masih jarang yang membahas soal takaran kehormatan. Dan kali
ini, aku bakal berbagi tentang keduanya!
Dalam Al-Quran hanya ada 2 surat yang diawali
oleh kalimat ‘celakalah’ dan dua-duanya adalah surat yang membahas soal takaran:
-
Takaran timbangan, Al-Mutaffifin
Dalam islam urusan transaksi bukan saja hanya
persoalan untung-rugi, tapi juga soal menjaga amanah. Kehormatan dan harta itu satu
paket, karena kehormatan seseorang salah satunya berasal dari bagaimana ia
menjaga dan menggunakan hartanya maupun harta orang lain.
”Setiap dosa akan diakhirkan
(ditunda) balasannya oleh Allah SWT hingga hari kiamat, kecuali al-baghy (zalim), durhaka kepada orang tua dan memutuskan silaturahmi,
Allah akan menyegerakan di dunia sebelum kematian menjemput.”
(HR Al Hakim, Al Mustadrak No 7345)
Tidak amanah terhadap harta orang
lain berarti termasuk mendzolimi orang tersebut. Sedangkan tidak amanah dengan harta
sendiri, adalah termasuk dzolim kepada diri sendiri. Termasuk amanah dengan
harta sendiri adalah menjaga kehalalan sumber harta tersebut.
1/3 komitmen beriman kita berasal dari menjaga diri
dari harta yang haram. Karena apa-apa yang masuk ke lambung kita, adalah
gambaran dari kondisi kita di akhirat kelak. Bahkan Nabi Adam saja dikeluarkan
dari surga bukan karena berzina atau bahkan membunuh, tapi karena mengonsumsi
sesuatu yang haram.
Selain pada timbangan harta, takaran juga termasuk
kepada janji. Entah itu janji secara tidak resmi, maupun resmi. Janji yang
resmi tuh gimana maksudnya? Contohnya jam kerja.
Jika di awal kita sudah membuat janji bahwa jam kerja kita
itu 8 jam, maka menguranginya sama dengan mengurangi timbangan. Misal ada kasus,
terus gimana kalau kita mau sholat ashar tapi gaada istirahat di jam tersebut? Maka
di akhir jam kerja, sebisa mungkin kita tambahkan sesuai dengan jumlah yang
kita ambil. Misal kita sholat ashar 15 menit, maka nanti sebelum pulang kita
tambahkan dulu 15 menit, baru pulang kerja.
Ini juga berlaku dari atasan kepada bawahannya. Jangan
sampai kita meminta mereka bekerja di luar jam kerja, sebab itu sudah termasuk
mengurangi timbangan mereka.
Kenapa kok dalam islam di atur sedemikian rupa? Ribet amat?
Karena Allah ingin menjaga setiap hambanya dari saling mendzolimi dan
terdzolimi, termasuk dalam waktu mereka.
-
Takaran kehormatan, Al-Humazah
Surat Al-Humazah bicara soal pengumpat dan pencela,
celakalah bagi mereka. Mengumpat dan mencela itu termasuk dari mengurangi
takaran kehormatan seseorang. Sedangkan kehormatan seorang mukmin itu tinggi di
mata Allah, maka jika kita menjadi tokoh yang merendahkannya, bisa jadi justru
kita bukan sedang berhadapan dengan orang tersebut, tapi langsung dengan Allah.
Banyak dari kita yang menjaga timbangan harta, tapi lupa
dengan adanya timbangan kehormatan yang juga harus kita jaga. Karena balik lagi
ke hadits di atas tadi tentang balasan bagi seseorang yang mendzolimi
saudaranya; tidak saja hanya akan dibalas di akhirat, tapi juga di dunia
terlebih dahulu.
Dari sini kita paham bahwa kita diminta untuk terus
berlaku baik kepada semua orang, dan termasuk dari kebaikan adalah berlaku adil.
Jangan sampai kita tidak adil kepada orang lain hanya karena rasa dan hawa
nafsu kita terhadap mereka, yang akhirnya menjadikan kita bersikap secara
subjektif dan tidak objektif.
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum
mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.” (QsAl-Maidah:8)
Marah, kecewa, kesal, dan semua rasa negatif yang
kita rasakan jangan sampai menjadikan kita tidak adil kepada mereka; termasuk dalam
bersikap.
Juga rasa iri, ujub, atau bahkan takjub
berlebihan kepada diri, yang seringkali menjadikan kita bersikap tidak baik
kepada mereka.
Ini susah sih pasti, ngebayangin kalo aku lagi kecewa sama
orang tapi tetep harus baik ke orang tersebut? Wahh bakal jadi PR panjang sih buatku
pribadi.
Dari materi hari ini kita jadi belajar bahwa menjaga
timbangan tidaklah hanya soal timbangan harta saja, tapi juga ada timbangan
kehormatan. Dan semuanya, akan menjadi bahan hisab kita kelak di akhirat.
Doanya, semoga kedepannya kita bisa lebih bijak dalam menjaga
timbangan, terutama dalam timbangan kehormatan orang lain.
Aamiin.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar