Beratnya Konsistensi
Konsistensi adalah salah satu hal penting dalam hidup manusia, di bidang apapun itu. Ga cuma sekali dua kali aku pernah denger kisah konsistensinya Ronaldo dalam latihan, dan bisa dilihat seberapa suksesnya ia sekarang sebagai pemain bola. Atau jika sekedar bicara soal rumah makan saja, mereka pun butuh menjaga konsistensi cita rasa masakannya agar bisa sukses.
Dalam islam
sendiri konsistensi adalah istiqomah, yaitu the power of repetition.
فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ “Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di
jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga)
orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas.” (Qs.Hud:112)
Coba bayangkan
seberapa sholeh dan bertakwanya seorang Rasulullah? Namun sekelas Rasul saja
masih diperintahkan oleh Allah untuk istiqomah.
Istiqomah sendiri bermakna sikap konsisten seorang mukmin
diatas kitabullah dan sunnah, tidak melenceng ke kanan atau ke kiri, tidak
melihat kebenaran melalui pendapat kebanyakan orang ataupun perasaannya,
konsisten dengan hati dan keimanannya sampai ia mati.
Memang apa spesialnya istiqomah sampai-sampai Rasul sendiri
masih diminta untuk istiqomah?
-
Perkara berat
Surat Hud
sendiri adalah salah satu surat yang membuat rambut Rasul beruban, saking
beratnya perintah yang harus dipikul dalam kandungan ayat-ayatnya.
“Telah membuatku beruban (surat)
Huud, Al-Waaqiah, Al-Mursalaat, Amma yatasaa aluun, dan Idzasy Syamsu
kuwwirat'"
(HR At-Tirmidzi, Al-Hakim, Abu'aim).
Ini menunjukan bahwa perintah
istiqomah bukanlah perkara mudah. Bahkan sampai ‘doa agar dijaga hatinya dalam
keimanan’ adalah doa yang paling sering Rasul panjatkan, sampai-sampai Ummu
Salamah pernah bertanya saking seringnya Rasulullah mengucapkan doa ini,
“Wahai Rasulullah kenapa engkau lebih sering berdo’a dengan do’a,
’Ya muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik (Wahai Dzat yang Maha
Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu)’. ”
“Wahai
Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari
Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam
iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.”
(HR.
Tirmidzi, no. 3522; Ahmad, 6: 315.)
Kondisi hati
sangatlah mudah berubah-ubah, maka yang paling sulit itu sebenarnya bukan
bertaubat maupun beribadah, tapi istiqomah untuk terus-menerus bertaubat dan
beribadah.
Istiqomah dalam
islam adalah tentang konsistensi kita terhadap hati dan prilaku. Inilah kenapa
ibadah dalam islam dibuat terus menerus; sholat 5 waktu, dzikir pagi-petang,
dll. Bermakna agar hati kita tetap terjaga pada sejuknya keimanan, agar iman
kita dapat terus terjaga sampai akhir hayat; istiqomah.
-
Pentingnya nasihat
Selain untuk
menunjukan seberapa beratnya perkara istiqomah, kenapa Rasul masih diminta untuk istiqomah juga untuk
menunjukan kepada kita, bahwa setinggi apapun keimanan, mereka tetap
membutuhkan nasihat untuk menjaga keimanannya.
Seorang manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama ia mencintai nasihat yang datang dari Allah dan Rasulnya. Makanya justru mulai dipertanyakan, jika ada seseorang yang telah berilmu ataupun bergelar tinggi malah menolak nasihat karena merasa dirinya sudah tidak memerlukan nasihat lagi.
Padahal untuk sekelas Rasul saja
yang ketakwaannya sudah tak perlu diragukan lagi, masih diminta untuk istiqomah, dan
menerima perintah tersebut dengan lapang dada.
Istiqomah yang paling tinggi adalah istiqomah di dalam hati,
karena setelahnya akan lebih mudah pula ia istiqomah dalam setiap perbuatannya.
Istiqomah sendiri adalah pertolongan dari Allah. Maka tak
salah jika biasanya ujian hidup mereka yang bertakwa lebih besar, namun mereka bisa melewatinya dengan senyuman. Karena pertolongan Allah tersebut hadirnya secara
tidak kasat mata; terasa dalam hati; yaitu dijaga keistiqomahannya dalam keimanan dan
diturunkan kepadanya ketenangan.
5 kunci menjaga istiqomah:
-
Doa > Perbanyak doa agar ditetapkan hatinya seperti yang
Rasulullah ajarkan.
-
Istighfar > Perbanyaklah istighfar, karena fungsi
istighfar adalah membersihkan dosa-dosa yang masih menempel pada dinding hati;dosa yang akan membuat kita mudah berbalik kembali kepada kemaksiatan.
-
Ilmu > Sifat ilmu itu seperti air hujan, menunbuhkan yang
mati dan membasahi yang kering, begitu juga fungsi ilmu terhadap hati kita.
-
Kelilingi diri dengan orang sholih/ah > Sifat manusia itu hanya ada dua, dipengaruhi atau mempengaruhi, maka kelilingilah diri kita dengan karakter
yang kita ingin terpengaruhi olehnya. Dan karakter orang sholih/ah itu adalah
mereka yang memadukan antara komitmen ibadah, ilmu dan akhlak. Jika rajin ibadahnya, tinggi ilmunya, namun tak baik akhlaknya, maka lebih baik jauhi jika kita tidak bisa jadi yang mempengaruhi.
-
Menjaga harta > lagi-lagi ini penting seperti yang sudah
biasa dibahas, karena akan mempengaruhi keseluruhan ibadah kita.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar