Cukup Itu Soal Rasa, Bukan Harta

Hidup gaakan lepas dari yang namanya ujian dan cobaan. Suka ga sih kita ngerasa kok kayaknya hidup kita tuh riweh banget? Kayak udah gaada harapan, apalagi jalan keluar. Dan seringkali pada saat kita ada di posisi ini, kita malah membebankan semuanya kepada diri sendiri; merasa diri ga mampu, nyalahin diri kurang kerja keras, atau bahkan sampai nge-cap diri kalo gaakan sukses.

Padahal kunci dari rumitnya hidup itu mudah, tinggal fokus aja naikin ketakwaan kita kepada Allah, maka nanti selanjutnya Allah langsung yang akan menyelesaikan urusan kita.

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا  “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (Qs.At-Talaq:2)

Dengan bertakwa memang bukan berarti hidup kita akan menjadi tanpa beban, tapi Allah langsung yang sudah menjanjikan jalan keluar bagi mereka yang bertakwa. Mungkin iman kita masih disitu-situ aja, makanya masalah kita juga masih disitu-situ aja; jalan buntu. Maka untuk menemukan jalan keluar tersebut, kita harus terus berusaha menaikan ketakwaan kita.

Bentuknya emang gak dengan langsung semua masalah kita hilang, bisa dengan dilapangkan hati kita dalam menghadapinya, diberikan orang-orang yang selalu mendukung dalam perjuangan kita, semua itu termasuk kepada jalan keluar yang Allah berikan kepada setiap hambaNya dalam menghadapi ujian kehidupan.

Ketakwaan itu adalah sumber kelapangan akhirat, maka jika akhirat kita saja sudah lapang, apalah arti urusan dunia kita, pasti juga akan Allah lapangkan.  

Kelapangan ini erat hubungannya dengan pembahasan rezeki,

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (At-Talaq:3)

Setelah diminta bertakwa, kita diminta untuk bertawakal. Tawakal adalah sumber dari kecukupan rezeki kita. Cakupan rezeki itu bukan hanya sekedar harta saja, jauh lebih luas dari sekedar dunia. Karena Allah mencela dunia, tapi Allah tidak pernah mencela rezeki. Nabi tidak pernah memohon dunia, tapi setiap pagi nabi memohon rezeki.

Dari kalimat “Maka Allah yang mencukupnya” kita jadi belajar, bahwa kecukupan itu berasa dari Allah. Seringkali kita merasa kecukupan itu adalah hasil dari ikhtiar dan usaha kita sendiri, padahal sampai kita punya banyak harta pun, kalau Allah tidak memberi kecukupan, maka kita tidak akan pernah merasa cukup.

Seberapa banyak kita lihat orang kaya yang tidak merasa cukup, dan orang miskin yang tidak merasa kurang? Mungkin jika dilihat secara sekilas mereka yang miskin terlihat kurang dari ukuran harta, tapi bisa jadi jika ditanya bagaimana dengan hidupnya selama ini? Mereka akan menjawab cukup. Inilah makna dari kecukupan tidak bergantung dengan kuantitas harta.

Rasa cukup adanya di dalam hati, sedangkan Allah yang menciptakan hati kita, maka sebenarnya Dia lah yang paling tahu bagaimana cara agar hati kita dapat merasa cukup. Dan Allah sudah janjikan kecukupan bagi mereka yang bertakwa dan bertawakal.  

Kecukupan itu hasil, bukan proses. Prosesnya adalah bagaimana kita bertakwa dan bertawakal tadi. Maka jika dulu kita sering mendapatkan nasihat “Menabung pangkal kaya” gantilah dengan nasihat, “Perbaikilah urusanmu dengan Allah, maka Allah yang akan memberikan kecukupan kepadamu”.

Bukan berarti kita tidak boleh menjadi kaya, bukan berarti juga kita harus menjadi miskin. Tapi yang dimaksud adalah bagaimana kita memahami bahwa asal kecukupan itu tidak terletak pada banyak sedikitnya harta, tapi Allah sendiri yang akan berikan, karena kecukupan itu letaknya bukan pada harta, tapi hati. 

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

Komentar

Postingan Populer