Gak Sanggup atau Gak Mau?

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (Qs.At-Tagabun:16)

Kita diperintahkan untuk bertakwa, yaitu melakukan apa-apa yang Allah perintahkan dan menjauhi setiap laranganNya. Huruf ‘Fa’ pada kalimat فَاتَّقُوا اللّٰهَ, bermakna ayat ini memiliki keterikatan dengan ayat-ayat sebelumnya. Jadi kita harus bertakwa terhadap apa?

Pada ayat 14 dan 15 ditekankan bahwa kita harus bertakwa atas tiga hal; pasangan, anak-anak, dan harta.

-          Pasangan

Ketakwaan seorang istri sangat mempengaruhi ketakwaan suaminya, begitu juga sebaliknya. Walaupun dalam beberapa kasus ada yang pasangannya dijadikan ujian seperti Asiyah bersama Firaun, namun kasus ini amat sangat jarang. Biasanya kualitas agama satu sama lain antar pasangan tidak akan beda jauh.

Maka dalam materi ini kita diberi nasihat, jika ingin merubah pasangan kita ke arah yang lebih baik, maka rubahlah diri kita terlebih dahulu di hadapan Allah, agar Allah langsung yang akan merubah pasangan kita.

-          Anak

Untuk kasus anak apalagi. Ketakwaaan orang tua sangatlah berpengaruh bagi ketakwaan anaknya. Anak itu seperti bayangan bagi orang tuanya, lurusnya orang tua akan membuat anak tersebut lurus, dan bengkoknya orang tua akan membuat anak tersebut bengkok.

Ada beberapa kasus orang tua yang berkata, “Gapapa saya ga baik, yang penting anak saya solih” Padahal asal baik tidaknya seorang anak berawal dari baik tidaknya orang tua. Bagaimana bisa anak tersebut menjadi solih kalau bahkan orang tuanya saja tidak ada niatan merubah dirinya ke arah yang lebih baik? 

-          Harta

Tidak ada yang salah dari harta itu sendiri; ia bersifat netral. Yang memberikan nilai adalah dari mana kita mendapatkan dan ke mana kita habiskan harta tersebut.

Kenapa ketakwaan sangat dibutuhkan dalam harta? Karena asal harta kita adalah kunci dari keseluruhan hidup kita. Jika harta kita saja sudah datang dari tampat dan menggunakan cara yang salah, kedepannya akan jadi efek domino ke semua amal ibadah kita.

Itulah tiga poin ketakwaan yang ditekankan pada surat At-Tagabun.

Pada ayat ini perintah bertakwa sendiri dibarengi dengan kalimat “menurut kesanggupanmu”, bermakna bahwa Allah memahami kalau kesanggupan setiap hambanya itu berbeda; Haji bagi yang mampu, sholat duduk jika tidak bisa berdiri, wudhu dengan debu jika tidak ada air, atau bahkan tetap mendapatkan pahala sholat malam bagi mereka yang sudah berniat sholat malam namun tidak kebangun karena kelelahan.

Namun tidak sedikit dari kita malah menjadikan ayat ini sebagai alasan untuk tidak melakukan suatu ibadah atau meninggalkan sebuah maksiat; karena merasa ‘tidak sanggup’. Padahal tidak sanggup dan tidak mau karena mengikuti hawa nafsu itu berbeda.

Contohnya ada pada kasus seseorang yang berpacaran lalu tidak mau putus karena alasan, “Aku ga akan sanggup hidup tanpanya.” “Aku ga sanggup kalau harus berpisah.”

Padahal dicoba saja tidak. Padahal kesanggupan itu datangnya dari usaha yang kita lakukan. Maka jangan sampai kita beralasan tidak mampu, padahal belum berusaha maksimal.

Konsep ‘menurut kesanggupanmu’ ini juga bisa kita amalkan kepada orang-orang sekitar kita; Allah saja membebani hambanya sesuai kemampuan kita, maka begitu juga seharusnya kita kepada satu sama lain.

Jangan membebani sesuatu diluar kemampuannya, jangan membanding-bandingkan, apalagi memaksakan sama yang satu dengan lainnya, karena setiap kita memang diciptakan berbeda dan punya potensi kebaikannya masing-masing.

Sekian, semoga ada manfaat yang bisa diambil~

  

Komentar

Postingan Populer