Lebih dari Kikir
وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ “Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs.Al-Hasyr:9)
Kata شُحَّ pada ayat ini diterjemahkan sebagai kekikiran,
padahal ‘syuh’ bukan hanya sekedar kikir, kikir hanya bagaian darinya saja.
Orang yang terkena penyakit syuh tidak hanya akan pelit kepada orang lain,
tapi juga kepada dirinya sendiri.
Pernah ada
kisah seseorang yang hidup begitu sulit di pinggir jalan, bajunya
compang-camping, tidur berpindah-pindah, makan pun susah. Sampai suatu hari
orang ini meninggal dunia, lalu saat barang bawaannya dibongkar, seberapa terkejutnya orang-orang saat menemukan harta yang begitu banyak menumpuk; tapi tidak pernah ia
gunakan sama sekali. Ini termasuk kepada penyakit syuh, memiliki harta namun tidak memanfaatkannya
meski untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Selain pelit kepada dirinya sendiri, gejala lain seseorang terkena penyakit syuh adalah menginginkan apa yang didapatkan orang lain. Tidak mau kalah dengan harta orang lain, merasa iri jika orang lain memiliki sesuatu yang lebih hebat, lebih besar, atau bahkan lebih mewah dari milik kita.
Penyakit ini
bisa menjadikan kita saling mendzolimi, memutuskan tali silaturahim, atau
bahkan saling menumpahkan darah hanya demi mengejar materi yang lebih dari milik orang lain. Makanya sesuatu yang berbahaya, jika segala sesuatu sudah diukur menggunakan materi.
Lawan kata
dari syuh adalah itsar, yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Itsar
adalah salah satu sifat yang Allah puji, saking mulianya sifat ini, sampai-sampai
Kaum Ansar diabadikan di dalam Quran disebabkan oleh sifat ini.
Sebab saat
hijrahnya Kaum Muhajirin ke Yatsrib, Kaum Ansar tidak perhitungan dengan
apa-apa yang mereka berikan kepada Kaum Muhajirin, bahkan mereka
mengutamakan Kaum Muhajirin melebihi diri mereka sendiri.
Itsar sendiri
ada dua, yaitu itsar yang berpahala dan yang makruh untuk dikerjakan:
-
Itsar yang
berpahala adala itsar terhadap hal-hal dunia. Misal mendahulukan orang lain
memakan roti kita padahal kita juga sedang lapar.
-
Itsar yang dimakruhkan
adalah itsar terhadap ibadah. Misal saat sedang sholat berjamaah kita
mendahulukan orang lain agar di shaf depan, dengan niat “Supaya dia mendapatkan
pahala lebih banyak.”
Karena jika dalam ibadah, kita diminta untuk berlomba; yaitu siapa yang paling cepat dan siapa yang paling banyak.
Terakhir, bagaimana caranya agar kita terhindar dari penyakit syuh?
-
Berdoa
Pernah waktu
itu Abdurrahman bin Auf sedang berthawaf, lalu sepanjang thawafnya beliau hanya
berdoa agar dihindarkan dari penyakit syuh. Beliau tahu seberapa besarnya akibat
yang bisa disebabkan oleh penyakit syuh, saking pentingnya, sampai-sampai ia
berdoa tentang hal tersebut terus-menerus sepanjang thawaf.
Dan benar
saja, beliau termasuk ke dalam salah satu sahabat yang telah dijanjikan surga karena
kedermawanan atas hartanya.
-
Meredam syahwat
ingin memiliki
Salah satu
sumber syahwat ingin memiliki adalah dengan memandang, melihat secara terus
menerus apa yang ingin kita miliki. Padahal ini termasuk kedalam perbuatan yang
dapat menimbulkan polusi hati. Yang akan menumbuhkan penyakit syuh tanpa kita sadari.
Makanya kita
diminta untuk berhati-hati dalam menggunakan sosmed, karena kita tidak pernah
tahu dikesempatan mana penyakit tersebut akan tumbuh di dalam diri kita
-naudzubillah.
-
Ingat bahwa semua
ini hanyalah dunia yang fana
Dengan begitu
kita akan lebih mudah untuk memisahkan mana yang benar-benar kita perlukan dan
mana yang hanya kita inginkan.
Sekian,
semoga ada manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar