Memaknai Kehidupan Dunia

Di tulisan kali ini aku bakal berbagi 8 cara gimana kita seharusnya memandang dunia.

1.       Orang yang mencari dunia belum tentu mendapatkan dunia.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (Qs.Al-Isra:18)

Hasil tidak mengkhianati proses memang berlaku dalam urusan akhirat, tapi tidak dengan urusan dunia. Buktinya banyak yang berusaha menjadi kaya, tapi tidak semua dari mereka menjadi kaya.

Ayat ini menyampaikan bahwa bagi mereka yang mengejar dunia, memang akan Allah segerakan baginya dunia tersebut, tapi SESUAI yang Dia kehendaki. Jadi sebesar apapun seseorang berusaha mengejar dunia, kalau tidak Allah kehendaki, maka yang ia dapatkan tidak akan pernah sebesar yang ia dambakan.

Konsep ini ada agar menjadikan kehidupan manusia seimbang dan harmonis. Tapi jadi ga adil dong? Loh adil, jika kita memandangnya tidak dengan sudut pandang materi, karena bisa jadi justru Allah sedang memberikan kesederhanaan bagi mereka yang miskin, dan sedang menyiapkan ujian besar bagi mereka yang kaya. Siapa yang tahu bukan?

2.       Kejarlah dunia dengan bijak.

Kalimat “Jangan lupakan” yang dipasangkan dengan urusan dunia di ayat kemarin ingin mengingatkan kita agar menjadi bijak dalam mengejar dunia. Jangan sampai waktu kita siang-malam hanya dipakai untuk mencari dunia, sampai menghalalkan segala cara, bahkan sampai melupakan halal-haram hanya karena sebatas tujuan dunia.

Karena ada keluarga yang juga harus kita jaga dari api neraka, ada mereka yang harus kita berikan waktu dan perhatian kita. Dan yang paling penting, kita akan pulang ke kampung akhirat, jika fokus kita hanya dunia saja, kapan kita akan sempat menyiapkan bekal untuk akhirat kita kelak?

3.       Jangan insecure dengan urusan dunia.

Hasan Al Bashri pernah memberikan nasihat, “Pada saat kita melihat seseorang yang unggul dalam urusan dunianya, maka ungguli dia dalam urusan akhiratnya.”

Sebab Allah tidak pernah meminta kita untuk berlomba-lomba dalam urusan dunia, tapi Allah meminta kita agar berlomba-lomba dalam kebaikan, atau dengan kata lain urusan akhirat. Karena sebesar apapun harta dan dunia yang kita miliki, kita akan tetap pulang hanya dengan 3 lembar kain kafan.

4.       Jangan sampai jadi obsesi.

Jangan sampai harta atau apapun itu urusan dunia yang tidak kita miliki sampai kita jadikan angan dan obsesi, sebab yang membinasakan manusia adalah panjangnya angan-angan.

Rasul menasihati kita untuk mengatakan ini disaat sedang melihat sesuatu yang membuat kita kagum dengan urusan dunia,

لبيك إن العيش عيش الآخرة

Aku penuhi panggilanmu ya Allah, sungguh kehidupan yg hakiki adalah kehidupan akherat” (HR. Bukhari 2834, Muslim 1805)

5.       Seimbang

Seperti yang sudah disinggung di tulisan sebelumnya, harga dunia dan akhirat itu tidak pernah sama, maka bagaimana kita akan menyeimbangkan antara keduanya?

Menyamakan dunia dengan akhirat seperti sedang menyamakan mobil Alphard seharga 2 miliyar dengan Avanza yang hanya 100 juta. Sangat tidak adil bukan?

Seimbang itu adalah tentang menempatkan sesuatu sesuai harga dan porsinya. Kita diminta untuk mengejar akhirat, maka kejarlah. Sebab dunia kita sudah dijamin oleh Allah, selama kita berusaha sesuai dengan kemampuan kita.

Jangan mudah tergoda dengan kenikmatan dunia. Karena senikmat-nikmatnya dunia, hanya sebatas satu tetes air laut diantara luasnya samudra. Dan serendah-rendahnya surga, tidak akan ada kesedihan di dalamnya.

6.        Dunia itu hanya jembatan.

Orang solih itu dibagi menjadi dua; ada yang lapang dunianya dan lapang akhiratnya, ada juga yang sempit dunianya namun lapang akhiratnya. Dan sama-sama ada kebaikan pada keduanya.

Miskin-kaya bukan urusan bagi mereka yang mengejar akhirat, karena urusannya bukan lagi pada banyaknya harta, tapi untuk apa harta tersebut dipakai selama di dunia.

7.       Zuhud

Banyak yang mengartikan bahwa zuhud itu berarti meninggalkan dunia sepenuhnya; ibadah terus, hidup miskin, ga nikah, dll. Padahal zuhud itu adalah tentang bagaimana kita meletakan dunia; apakah di tangan atau kah di hati.

Mereka yang zuhud akan menganggap enteng urusan dunia. Misal mereka yang kaya namun hanya memikirkan harta secukupnya saja, terhitung zuhud dibandingkan dengan mereka yang miskin namun yang dipikirkan hanyalah uang, uang, dan uang sepanjang harinya.

“Wajarlah, kan yang kaya udah punya uang, makanya ga mikirin uang lagi.” Ga juga gitu, banyak orang kaya yang walaupun sudah punya banyak harta, tetap ingin mengejar lagi, lagi, dan lagi, inilah yang disebut tidak zuhud.

Gitu juga dengan barang, mereka yang memakai barang branded belum tentu tidak zuhud. Karena bisa jadi dia membeli barang tersebut dengan alasan kualitas dan agar tahan lama, tapi jika barang tersebut hilang atau rusak, tidak akan ia ambil hati. Berbeda jika barang sudah memasuki hati pemiliknya, maka hilang atau rusaknya barang tersebut akan membuat pemiliknya sedih, galau, resah, dll.

Jadi intinya, zuhud itu tentang penempatan harta yang kita miliki, urusannya dengan hati, bukan soal banyak sedikitnya yang kita miliki.

8.       Dunia selayaknya air

Air jika mengalir secukupnya akan menjadi manfaat untuk kita, tapi jika berlebihan, maka kita yang akan tenggelam dan terbawa arus derasnya. Maka hati-hatilah dengan dunia, jangan sampai menjadikan kita lalai.

Tak salah jika kita menginginkan harta, tapi mintalah harta yang tidak akan merusak akhirat kita. Agar segala harta dunia yang kita miliki bisa menjadi jembatan kita ke surga, bukan neraka.

Terakhir nasihatnya, “Jangan khawatir dengan urusan dunia, sebab Allah telah menjaminnya. Tapi khawatirlah dengan urusan akhirat, sebab Allah belum menjaminnya.”

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~

 

Komentar

Postingan Populer