Mengejar Pujian
Sekarang kita hidup di zaman di mana kaum yahudi sedang berkuasa. Bahkan sampai standar-standar hidup yang kita miliki, kebanyakan bertolak ukur dari mereka. Alhasil, dari sanalah kebanyakan dari kita mencari pembenaran dan pengakuan.
Imam Ibnu
Jarir pernah berkata, “janganlah kamu sampai menjadikan kumpulan orang nasrani
dan yahudi sebagai tolak ukur yang menyenangi perbuatan kamu.” Nasihat ini menyampaikan
kepada kita, agar jangan sampai yang menilai perbuatan kita disenangi atau
tidak disenangi, benar atau tidak benar, adalah mereka yang tidak seaqidah
dengan kita.
وَلَنْ تَرْضٰى
عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ “Dan
orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum
engkau mengikuti agama mereka.” (Qs.Al-Baqarah:120)
Ayat ini
memang khusus disampaikan kepada nabi, tapi pesannya untuk kita semua sebagai
kaum muslimin. Inilah alasan kenapa jangan sampai kita menjadikan mereka
sebagai tolak ukur penilaian, karena sejatinya mereka tidak akan pernah
sepenuhnya menyanjung kita, sampai kita mengikuti keyakinan mereka.
Kaum yahudi
satu-satunya yang Allah sisakan disaat kaum Aad, sampai kaum Samud dimusnahkan
oleh Allah, yang berarti kaum yahudi ini hadir sebagai ujian bagi kita. Iya memang
ga semua orang yahudi memusuhi kita, kita pun juga harus tetap berbuat baik
jika mereka berbuat baik kepada kita.
Tapi, “Banyak
di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu
setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali” (Qs.Al-Baqarah:109). Pun kalau mau
bicara dari realita, sudah jelas terlihat dari kaum merekalah permusuhan
terhadap islam yang paling besar terasa.
Contohnya
keluarga Rothschild yang menguasai perbankan
dunia, ia adalah seorang yahudi. Atau sejarah PBB didirikan? Juga yang menjajah
Baitul Maqdis?
Dalam
Al-Quran sendiri Allah sudah mengatakan bahwa mereka memang dilebihkan, “Kemudian
Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan
harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.”
(Qs.Al-Isra:6) Tujuannya agar menjadi ujian bagi kita, dan Allah ingin melihat apakah
kita bagian dari mereka yang berjuang melawan ataukah tidak.
Ayat Al-Baqarah:120
ini seringkali dikatakan sebagai ayat radikal yang mengajarkan permusuhan. Padahal
ayat ini hadir bukan sebagai pembenaran bahwa kita boleh melakukan kekerasan
terhadap mereka, tapi sebagai pengingat agar kita tetap konsisten berpegang
teguh kepada kitabullah dan sunnah, sebab sudah disebutkan bahwa memang akan
ada zaman di mana kaum mereka yang akan dimenangkan. Dan pada zaman itu, jangan
sampai kita mengorbankan prinsip kebenaran hanya karena ingin mendapatkan jabatan,
pujian, pengakuan, ataupun penerimaan dari mereka.
Berbuat baiklah
sesuai dengan syariat dan fokus untuk terus menjadi manfaat, agar kedepannya
kita bisa dan pantas mendapatkan pujian dari mereka atas dasar kehebatan kita,
bukan karena kita memaksakan diri mengikuti standar mereka.
Sebab konsep
islam itu sudah hebat, tinggal bagaimana kita sebagai muslim yang menerapkannya
berhasil atau tidak menunjukan kehebatan tersebut. Dengan usaha kita menunjukan
kehebatan islam, harapannya justru bisa menjadi hidayah bagi mereka.
Maka intinya, kejarlah
pujian mereka melalui kehebatan islam. Jangan malah mengikuti cara main mereka, karena tujuan utama mereka adalah mengambil keimanan kita.
Semoga ada
manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar