Menjadi Khalifah Seutuhnya
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ
الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ
الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ
اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ
ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ “Dan carilah (pahala) negeri
akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah
kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat
kerusakan.” (Qs.Al-Qasas:77)
Dari ayat ini kita diajarkan langsung
tiga hal penting dalam menjadi “khalifah” di muka bumi. Aku bakal bahas dari
yang ketiga, karena yang pertama bakal butuh pembahasan yang cukup panjang.
1.
“Janganlah kamu
berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat
kerusakan”
Kita dilarang untuk membuat kerusakan
di muka bumi, kerusakan sendiri dalam pandangan islam ada dua; kerusakan alam
dan kerusakan maksiat
Sebelum ada gerakan ‘less waste’
islam sudah mengajarkan umatnya terlebih dahulu bagaimana kita harus berkasih
sayang tidak hanya dengan sesama manusia, tapi juga kepada seluruh alam
semesta.
Gitu juga dengan maksiat, berbuat
maksiat seperti sedang menyebarkan kerusakan moral bagi sekitar, karena
beberapa maksiat termasuk zina, itu sifatnya menular. Bahkan jika kita bahas
alam sendiri, Allah telah menjadikan segala-galanya cukup bagi manusia, tapi
mereka yang dzolim-lah yang menjadikan sember daya bumi terasa tidak cukup.
Ini menarik, jadi ngingetin aku ke
sistem ekonomi islam yang membagi kebutuhan manusia menjadi 6: makanan, pakaian,
tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Makanan, pakaian dan tempat
tinggal adalah tanggung jawab individu atau keluarga dalam memenuhinya. Sedangkan
pendidikan, kesehatan dan keamanan adalah tanggung jawab pemerintah kepada
warganya.
Inilah kenapa sekarang sampai ada
istilah generasi sandwich; ia harus memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya, disaat
bersamaan juga kesehatan orang tuanya. Karena memang kita sedang hidup dalam
sistem yang memaksa kita untuk mencari harta agar kita serahkan kembali kepada
mereka yang ‘memberikan’; ini termasuk kepada kerusakan maksiat. Padahal dalam
islam, pendidikan dan kesehatan adalah tanggung jawab negara.
1.
“Berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”
“Sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.)
Islam
menekankan bahwa manusia yang mulia itu bukan yang paling banyak bersujud
kepada Allah, tapi mereka yang membersamai sujudnya dengan menjadi manfaat
untuk sebanyak-banyaknya orang.
Ayat ini
juga ingin menyampaikan, seperti apa kita ingin diperlakukan oleh Allah, maka
perlakukanlah orang lain seperti itu. Jika kita ingin diperlakukan Allah dengan
baik, maka berbuat baiklah kepada manusia. Jika ingin dimaafkan oleh Allah,
maka maafkanlah orang lain.
2.
“Carilah
(pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu”
Manusia seringkali
memikirkan bagaimana cara hidup yang enak tapi suka lupa memikirkan bagaimana
cara mati yang enak. Sibuk memikirkan kehidupan diatas bumi, tapi lupa bahwa
kita akan lebih lama hidup di bawah bumi.
Orang yang
ingat dengan urusan akhiratnya, maka urusan dunia akan terasa kecil bagi
mereka. Berlaku juga sebaliknya, mereka yang lupa dengan urusan akhiratnya, maka
akan tampak besar urusan dunianya; terasa begitu melelahkan dan meletihkan.
Didatangkan
penduduk neraka yang paling banyak nikmatnya di dunia pada hari kiamat. Lalu ia
dicelupkan ke neraka dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya,
“Wahai anak
Adam, apakah engkau pernah merasakan kebaikan sedikit saja? Apakah engkau pernah
merasakan kenikmatan sedikit saja?”
Ia mengatakan, “Tidak,
demi Allah, wahai Rabb-ku.”
Didatangkan
pula penduduk surga yang paling sengsara di dunia. Kemudian ia dicelupkan ke
dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya,
“Wahai anak
Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau
pernah merasakan kesulitan sekali saja?”
Ia menjawab, “Tidak,
demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan
aku tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya”
(HR. Muslim no. 2807).
Setelah kita diminta untuk fokus
kepada urusan akhirat, kita juga diminta untuk jangan lupa dengan urusan dunia.
Karena kita memang tidak akan kekal di dunia, tapi tetap saja dunia dibutuhkan,
termasuk untuk menegakan agama Allah. Maka sebaik-baik harta di dunia, adalah
harta yang dimiliki oleh orang-orang solih. Tapi perlu diingat, kalimatnya "Jangan lupa" yang berarti fokus kita tetap harus terarah pada akhirat.
Ayat ini hadir agar kita tidak
menjadi ekstrem; Jangan sampai mengejar akhirat sampai mengharamkan segala
kesenangan di dunia, tapi juga jangan terlalu fokus dengan dunia sampai kita
lupa dengan akhirat.
Seringkali ayat ini dijadikan
dalil agar kita menyeimbangkan antara dunia dengan akhirat kita. Padahal
kata seimbang hanya bisa dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang memiliki
harga yang sama, sedangkan dunia dan akhirat, apakah harganya sama?
Jadi, bagaimana seharusnya kita
memandang dan memperlakukan dunia? Bakal aku lanjut di tulisan besok!
Semoga ada manfaat yang bisa
diambil~
Komentar
Posting Komentar