Sumber Kualitas Hidup

Imam Syafi’i pernah berpesan, "Barangsiapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu berprasangka baik kepada sesama manusia". Dan salah satu cara agar dapat berprasangka baik, adalah dengan memiliki hati dan jiwa yang bersih.

وَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ “Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri.” (Qs.Fatir:18)

Dari mana asal hati dan jiwa yang bersih? Yaitu dari mensucikan diri. Dan kualitas hidup kita, sangat bergantung dari seberapa besar komitmen kita dalam menjaga kesucian diri; kondisi hati dan jiwa. 

Kondisi Hati + Kondisi Jiwa = Kualitas hidup

Karena bersihnya hati dan jiwa, akan berpengaruh juga kepada kondisi tubuh dan fisik kita: Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)

 (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Seberapa banyak orang yang terlihat sehat di luar, baik kondisi fisiknya, berkecukupan dalam harta, tinggi dalam jabatan, atau bahkan disukai jutaan orang, tapi memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri? Padahal kalo kata orang, kurang apalagi hidup dia? Ini salah satu akibat dari masalah yang terjadi dalam hati dan jiwa, maka hal-hal dzohir ga akan ada harganya lagi.

Sering dari kita hanya fokus kepada sunnah-sunnah yang dzohir saja; sholat, puasa, umrah, dll. Padahal menjaga hati agar tetap bersih adalah salah satu bagian dari sunnah yang juga Rasul ajarkan kepada kita.

Bagaimana Rasul mencontohkan bahwa ini adalah bagian dari upaya seumur hidup. Terus menanamkan tauhid dan aqidah yang benar, sebab dari sanalah cara membersihkan hati dan jiwa yang sesuai dengan ridhaNya berasal.

Lewat surat Asy-Syams, Allah sampai 11 kali bersumpah atas ciptaanNya bagi mereka yang mensucikan diri. Bayangkan, seberapa ga main-mainnya Allah kalau sudah bersumpah, dan ini sampai 11 kali! Maka sudah cukup mewakilkan seberapa besar dan pentingnya kita untuk menjaga kebersihan hati dan jiwa.

Banyak dari kita yang fokus memperhatikan penampilan fisik, tak salah memang, itu juga bagus. Tapi juga jangan sampai lupa, bahwa ada hati dan jiwa yang lebih utama untuk diperhatikan dibandingkan dengan fisik.

Banyak orang yang bisa menjadi wali Allah dalam keramaian, tapi menjadi wali syaitan saat sedang sendiriran. Berbuat baik saat sedang ramai, tapi bermaksiat dengan hatinya saat sedang sendirian. Apalah artinya perbuatan baik, jika hati dan jiwa kita justru sedang melakukan sesuatu yang tidak Allah ridhai?

Tapi bukan berarti jadi pembenaran kita tidak berbuat baik karena merasa hati kita belum cukup bersih, tapi justru ini adalah sebuah pesan agar membersamai perbuatan baik kita dengan proses pembersihan hati dan jiwa.

Setelah kita belajar dari ayat ini, sekarang kita jadi paham bahwa kadar kemuliaan seseorang justru sebagian besar berasal dari kebersihan hati dan jiwanya. Sesuatu yang tidak bisa kita nilai dalam diri orang lain; sebab posisinya yang tidak terlihat.

Maka dengan ini, semoga kedepannya kita bisa lebih mudah untuk menilai orang ga sekedar dari kesan sekilas yang kita lihat saja. Memandang sebelah mata seseorang yang 'status sosial'-nya di bawah kita misalnya, karena kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi hatinya. Bisa jadi justru ia lebih mulia daripada kita. Siapa yang tahu, bukan?

Sekian untuk hari ini, semoga kita bisa menjadi bagian dari mereka yang dimudahkan dalam membersihkan hati dan jiwanya.

Aamiin.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil~



 

 

 

Komentar

Postingan Populer