Waktu sebagai Indikator Kesuksesan
Kita semua memiliki jatah waktu yang sama setiap harinya, yaitu 24 jam. Tapi sebagian dari kita memiliki pencapaian lebih daripada yang lainnya, padahal jika jatah waktu kita sama, bukankah banyaknya hal yang kita semua bisa capai juga seharusnya sama?
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ “Maka apabila engkau telah selesai (dari
sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya
kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (Qs.Al-Insyirah:7-8)
Ayat ini sering disampaikan agar kita mengerjakan sesuatu tidak
secara bersamaan, tapi makna lainnya juga, agar jangan sampai kita nganggur
terlalu lama. Diam dan istirahat sejenak itu diperbolehkan, tapi jangan sampai
malah mendominasi hidup kita.
Waktu bisa jadi pembeda apakah seseorang diridhoi atau tidak
oleh Allah SWT,
"Di antara kebaikan Islam seseorang adalah
meninggalkan hal yang tidak bermanfaat."
(HR Tirmidzi
no.2317 dan Ibnu Majah no.3976)
"Tanda berpalingnya Allah dari hamba-Nya
adalah dia (hamba) disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat”
(dari perkataan Hasan al-Basri dan Imam Al-Ghazali)
Ini menjadi
bukti bahwa waktu adalah persoalan besar; baik tidaknya hidup kita dapat
terlihat dari kualitas waktu kita; untuk apa dihabiskan.
Ada 8
perkara yang kita diminta untuk menyegerakannya:
1. Sholat
Umar bin
Khatab pernah berkata, “Barang siapa meremehkan sholat, maka ia akan mudah
untuk meremehkan hal lainnya”
2. Bayar Zakat
Zakat adalah
salah satu bagian yang termasuk dalam ibadah yang membutuhkan penyerta “Tidak
akan diterima sholat, sampai ia membayar zakat. Tidak akan beriman kepada Allah,
sampai ia taat kepada rasul. Tidaklah bersyukur kepada Allah, sampai ia
berbakti kepada orang tua.
Inilah kenapa
dalam Al-Quran perintah sholat sering dibarengi dengan perintah membayar zakat.
3. Tobat
Salah satu
panah beracunnya iblis adalah melambatkan manusia dalam taubatnya.
4. Membayar Hutang
Hutang adalah
salah satu perkara halal (yaitu diperbolehkan untuk melakukannya) yang dapat
menjadi penghalang kita masuk surga; ruh yang berhutang tidak akan diterima
langit maupun bumi sampai hutang tersebut dibayarkan.
5. Meminta Maaf
Jangan
sampai pengadilan kita di akhirat menjadi lebih panjang karena urusan kita
dengan sesama manusia lainnya belum selesai.
6. Menikahkan anak-anaknya apabila
sudah siap
7. Mengembalikan barang
8. Menguburkan mayit
Lalu setelahnya 8 hal ini diselesaikan, kita diminta untuk
segera mengerjakan yang lain lagi. Sebab kita layaknya air, yang jika terlalu lama
diam di satu tempat yang sama akan berkurang kualitasnya.
Kalo kata ustad, "Pecayalah, sepusing dan selelah apapun orang yang punya kesibukan, akan
lebih pusing dan lelah mereka yang tidak punya kesibukan."
Tapi gabisa dipungkiri juga kebanyakan dari kita, termasuk aku, masih memilih aktivitas sesuai moodnya aja lagi gimana. Dan kalau bukan Allah langsung yang ngasih mood baik untuk belajar ataupun melakukan hal baik lainnya, pasti bakal tetep susah buat ngelakuin hal-hal baik walau udah maksa diri sekalipun.
Inilah pentingnya dari membangun ketakwaan lalu mengejar ridhoNya, agar keseharian kita juga Allah langsung yang arahkan kepada hal-hal yang baik dan bermanfaat. Jadi doanya, semoga kita termasuk dari mereka yang diridhoi waktunya.
Aamiin.
Semoga ada manfaat yang bisa diambil~
Komentar
Posting Komentar